Minggu, 28 Februari 2010

Kalo' mereka bisa kita juga pasti bisa

Bermula dari Mimpi Besar

Seperti sukses Bill Gates dengan microsoftnya, Zuckerberg, CEO dan pencetus facebook, juga memiliki impian luar biasa. Saat membangun microsoft dari sebuah garasi, Bill Gates sudah mencanangkan impian yang luar biasa, yaitu pada suatu saat nanti siapapun di dunia ini yang menggunakan komputer personal, mereka tidak akan bisa lepas dari microsoft. Impian itu terwujud! Hampir semua pengguna komputer personal d dunia ini menggunakan produk microsoft, terutama microsoft windows.
Mark Zuckerberg tidak kalah gila. Dari sebuah kamar di asrama mahasiswa Harvard, dia ingin menjadikan facebook menjadi standar komunikasi di planet ini, yang digunakan di mana-mana, dapat digunakan semudah menggunakan telepon, namun lebih interaktif dan multidimensi, sehingga sangat diperlukan oleh semua orang. Zuckerberg ingin ‘tidak ada manusia di planet ini yang bisa meninggalkan facebook!”. Mimpi gila memang. Tapi mimpi besar itulah yang menempatkan dia sekarang sebagai anak termuda di jagad ini yang menjadi orang terkaya karena jerih payahnya sendiri. Forbess ditahun 2008 menobatkan Zuckerberg yang kelahiran tahun 1984 ini sebagai “[the] youngest billionaire on earth and possibly the youngest self-made billionaire ever,” dengan kekayaan sebesar $1.5 billion USD. Majalah Time menobatkan Zuckerberg sebagai salah satu The World’s Most Influential People of 2008.
Memang ada yang mencoba menanyakan siapa yang lebih cerdas, Bill Gates atau Mark Zuckerberg (lihat tulisan John Markoff di The New York Times 28 Mei 2008). Sama-sama cerdaskah mereka? Atau sama-sama tidak cerdas? Nampaknya pertanyaan tersebut tak ada artinya sama sekali buat keduanya. Mereka tidak mempedulikannya. Keduanya memang sekolah di Harvard, sekolahnya orang-orang cerdas, namun sama sama tidak lulus alias dropout. Bill Gates terpaksa dropout karena sibuk mengembangkan microsoft. Dia tidak mau kuliah mengganggunya mewujudkan impiannya. Dibangunnya microsoft dari bisnis kelas garasi, sampai akhirnya sekarang menjadi kelas dunia. Mark juga demikian. Dia lebih memilih fokus pada impiannya, mulai dari kecil, yaitu mulai dari membuat social network untuk anak-anak kampus, sampai sekarang seperti ini, world class juga.
Keberhasilan Bill maupun Mark sama-sama menghadapi tudingan miring bahwa mereka mencuri ide temannya. Tapi itu tidak penting buat mereka, karena apapun kata orang, mereka bisa mentransformasi ide menjadi sesuatu. Mereka berhasil mentransformasi “think” menjadi “thing”.